Sabtu, 26 Mei 2018

KASIH YANG TAK TERUKUR

Pembacaan Alkitab: Mazmur 103:1-14

Mazmur ini adalah Mazmur pujian akan kebesaran kasih Tuhan yang dinyanyikan oleh Daud. Ia benar-benar mengalami bagaimana Tuhan telah menolong hidupnya yang kemudian membawa dia kepada suatu kesadaran yang dalam untuk menyembah kepada Tuhan. Dia berkata; Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Ay. 1-2).

Kemudian Daud mulai mengingat dan memaparkan bagaimana bentuk-bentuk kasih Tuhan  telah menolong hidupnya sebagai berikut;

1.    TUHAN telah mengampuni segala kesalahannya (Ay. 3a)
2.    TUHAN telah menyembuhkan segala penyakitnya (Ay. 3b)
3.    TUHAN telah menyelamatkan dia dari bahaya kematian (Ay. 4a)
4.    TUHAN memberikan kehormatan kepada dengan kasih setia dan rahmat (Ay. 4b)
5.    TUHAN memenuhi kebutuhannya dengan segala kebaikan (Ay. 5)
6.    TUHAN telah memberikan keadilan kepada orang-orang yang diperlakukan tidak adil (Ay. 6)
7.    TUHAN telah membimbing umat-Nya pada jalan-jalan-Nya (Ay. 7)
8.    TUHAN itu penyayang dan berlimpah kasih setia (Ay. 8)
9.    TUHAN tidak mendendam dan menghukum setimpal dengan kesalahan kita (Ay.  9-10, 12)
10. TUHAN itu sangat pengertian dengan umat-Nya (Ay. 13-14).

Setelah menceritakan semuanya itu, pada akhirnya Daud tidak lagi dapat mengukur kasih TUHAN dengan kata-kata dan kalimatnya sendiri. Betapa banyaknya hal-hal yang telah TUHAN nyatakan kepada dirinya dan juga umat Tuhan berdasarkan apa yang ia ingat dan sadari.

Untuk menunjukan kebesaran kasih Tuhan yang lebih besar dan tak dapat diukur dari apa yang telah ia sebutkan tadi, ia berkata; “Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia.” (Ay.11).

Pengakuan  Daud akan kebesaran kasih Tuhan menunjukan fakta kepada kita bahwa kasih Tuhan sungguh adalah kasih yang tak terbatas, kasih yang tak dapat diukur dengan kemampuan dan kecerdasan manusia.

1.        Kasih Yang Setinggi Langit (Ay.11)

“Setinggi langit di atas bumi, demikianlah besarnya kasih setia-Nya…”. 

 Adakah seseorang dapat mengukur tingginya langit? Fakta menunukkan bahwa manusia tidak dapat mengukur tingginya langgit.

Semua yang ada di dunia ini dapat diukur dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Besar dan beratnya, panjang dan lebarnya suatu benda dapat diukur dengan IPTEK walaupun melampau batas kecerdasan dan kemampuan manusia, panas atau dinginnya cuaca dapat dikur dengan IPTEK, dalamnya lautan dapat diukur, tingginya benda-benda langit dapat diukur, tetapi adalah suatu penelitian yang dapat memberikan jawaban yang pasti seberapa tingginya langit? Adakah ditemukan sudut atau ujungnya?

Sungguh tingginya langit tidak dapat diukur dengan apapun juga, itulah sebabnya Daud tidak lagi dapat berkata-kata tentang kasih dan kesetiaan TUHAN selain menggambarkannya dengan kalimat; “Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia.”

Kita mungkin bisa bercerita tentang kasih TUHAN dalam hidup kita kepada orang lain yang kita jumpai, kepada teman, rekan kerja atau orang yang paling dekat dalam hidup kita, namun mungkin hanya sebatas apa yang kita alami, kita lihat dan kita rasakan, namun yang lebih dari pada itu, panjang dan lebarnya, besar dan tingginya tidak dapat diukur dengan kata-kata dan perasaan kita. Kasihnya jauh lebih besar dari apa yang kita lihat dan yang kita rasakan. Dengan apakah kita dapat mengukur?

2.        Kasih Yang Menjangkau Manusia Yang Dalam Keterbatasan (Ay. 14).

Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.” Sekalipun manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang mengukur segala sesuatu untuk mencari pengetahuan tentang keberadaan alam semesta atau suatu benda, namun manusia tetaplah makhluk yang terbatas.

Manusia yang kecil tidak akan pernah mampu mengukur Allah yang Besar, manusia yang terbatas tidak akan mampun mengukur Allah yang tidak terbatas! Tetapi kasih Allah melampau semua pengetahuan manusia. Manusia yang adalah debu namun diperhatikan dengan sangat istimewa oleh Allah, Ia yang menjangkau manusia yang terbatas pengertian dan pengetahuannya seperti apa yang telah Daud ceritakan tadi, itulah kasih Allah yang tidak terukur.

Sebutir dedu yang sangat kecil dan sangat mudah terombang-ambing menggambarkan kelemahan dan keterbatasan manusia, namun kasih Allah yang tidak terukur telah menjadikan kita istimewa “seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikianlah Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia”. (Ay. 13).

KESIMPULAN
Kasih Allah yang tak terbatas adalah kasih yang tidak dapat diukur oleh kemampuan dan kecerdasan manusia, setingginya langit demikianlah besarnya kasih Allah kepada kita. Kepedulian-Nya kepada manusia yang lemah dan terbatas telah menjadikan manusia istimewa di hadapan-Nya.

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikianlah Allah menyayangi kita. Perasaan kita terlalu kecil untuk mengukur kasih Allah, kata-kata kita terlalu sederhana untuk menggambarkan kasih Allah dan mata kita sangat terbatas untuk melihat dan menceritakan kasih Allah.

Kasih-Nya yang lebih lebih besar ketika Ia menyatakan kepeduliannya kepada dunia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16).

Mari kita mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh, karena Ia mengasihi kita lebih dari apa yang kita lihat, kita rasakan dan kita terima. Kasih Allah melampau batas kemampuan dan pengetahuan kita.

Karena kasih Allah begitu besar kepada kita, maukah kita sungguh-sunguh mengasihi Tuhan dalam kesetiaan dan ketaatan melayani Dia? Maukah kita menanggalkan keegoan kita dan memberikan waktu kita kepada-Nya? #KetutMardiasa

Sabtu, 19 Mei 2018

DINAMIKA PENTAKOSTA



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 2:1-13

 Pentakosta adalah suatu peristiwa yang menandai gereja dan orang-orang percaya sebagai objek penyataan Roh Kudus. Pentakosta adalah suatu peristiwa yang sangat penting mengawali perkembangan gereja dari dan ke seluruh dunia.

Pentakosta adalah penggenapan janji TUHAN kepada gereja-Nya, Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” (Yoh. 14:16-17). Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” (Luk. 24:29).

Pada hari Pentakosta semua orang percaya berkumpul dalam ketaatan sebagaimana yang diperintahkan kepada mereka oleh Tuhan supaya mereka tinggal di kota (bdk. Kis. 1:4-5), dan pada saat itu juga Roh Kudus turun ke atas mereka (Kis. 2:1-4). Semua orang yang berkumpul menerima kuasa Roh Kudus. Turunnya Roh Kudus berdampak dengan sangat hebat bagi mereka dan bagi gereja sampai sekarang ini, namun bagi mereka yang tidak percaya mengganggap tanda-tanda yang terjadi pada waktu itu sebagai hal yang biasa saja bahkan mengatakan orang yang sedang kepenuhan Roh disebut sebagai orang yang sedang mabuk oleh anggur (Ay. 13).

Pentakosta adalah dinamika yang mewujudkan gereja-Nya menjadi kuat dan berwibawa. Pentakosta adalah sebuah kekuatan yang tak terbendung yang membuat gereja tumbuh menjadi besar sekalipun menghadapi hambatan dari zaman ke zaman. Mari kita melihat bagaimana Pentakosta itu mewujudkan gereja-Nya menjadi kuat dan berwibawa;

1.    Pentakosta Adalah Kuasa Yang Mempersatukan (Ay. 4-11).

Ketika semua orang percaya berkumpul sebagaimana perintah Tuhan Yesus kepada mereka, Tuhan menggenapi janji-Nya tentang Roh Kudus (Ay. 1-4). Roh Kudus dicurahkan dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus sehingga mereka mulai berkata-kata dengan bahasa-bahasa seperti yang diberikan Roh Kudus kepada mereka (Ay. 4).

Peristiwa tersebut mengundang takjub khalayak orang banyak dari berbagai suku dan bangsa, karena mereka mendengar orang-orang yang berkumpul di situ berbicara dengan bahasa-bahasa yang dapat dimengerti yaitu bahasa suku mereka masing-masing, padahal mereka adalah orang-orang Galilea (Ay. 7). Orang yang berbeda suku dan bahasanya justru mereka mengerti dengan baik apa yang mereka ucapkan (Ay. 8-11). Mengapa bisa terjadi demikian? Itulah kuasa Roh yang mempersatukan mereka. Roh Kudus menyatukan berbagai perbedaan menjadi harmoni yang indah.

Bahasa adalah symbol kesatuan. Itulah sebabnya dikatakan bahwa bahasa adalah alat pemersatu bangsa. Jadi dinamika Pentakosta adalah Kuasa yang mempersatukan. Mempersatukan jemaat yang berbeda-beda suku dan bahasanya, berbeda-beda motivasi dan kepentingannya menjadi satu dalam Kristus. Semua perbedaan dapat dimengerti untuk menciptakan nada-nada yang indah untuk di dengar, dilihat dan dirasakan.

2.    Pentakosta Adalah Kuasa Yang Untuk Memuliakan Allah (Ay. 11).

Pada hari Pentakosta tidak ada hal-hal yang lain yang mereka ucapkan dan lakukan. Semua mereka larut dalam kuasa Roh untuk memuliakan TUHAN. Tidak ada catatan tentang apa yang mereka ucapkan, namun dapat kita mengerti dengan baik bahwa apa yang mereka lakukan adalah memuliakan Allah. Mereka berkata-kata tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Ay. 11b).

Banyak orang yang tidak mengerti tentang apa yang terjadi. Mereka yang menyaksikan tanpak bingung dan bertanya-tanya “Apakah artinya ini) Ay. 12). Bahkan ada juga nada-nada negatif (Ay. 13).

Kuasa itu turun dan membuat orang-orang percaya fokus kepada perkara-perkara yang memuliakan Tuhan. Jadi setiap orang yang percaya kepada Tuhan, menerima kuasa Roh Kudus, hadir berkumpul untuk memuliakan Tuhan dan menceritakan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar. Jadi Dinamika Pentakosta menjadikan jemaat sebagai gereja yang memuliakan Tuhan.

Jikalau kita hadir untuk berkumpul di gereja namun tidak ada tujuan untuk memuliakan Tuhan melalui cara dan sikaf kita beribadah, maka kita tidak akan menikmati persekutuan dengan Tuhan dan kita hanya memuliakan diri kita sendiri dan apa yang kita miliki.

KESIMPULAN:

Hari Pentakosta adalah kekuatan gereja, menjadikan gereja berwibawa dan penuh dengan kuasa, yaitu kuasa yang mempersatukan jemaat dari berbagai perbedaan ke dalam irama yang indah. Yang kedua adalah kuasa yang membuat jemaat hadir sebagai satu-satunya gereja yang memuliakan Allah.

Gereja dipilih oleh Allah untuk menceritakan perbuatan-perbuatannya yang besar bagi dunia. Gereja dipilih sebagai satu-satu alat untuk menyatakan kehendak-Nya, dan Roh Kudus melalui Pentakosta menjadikan gereja menjadi kuat dan berwibawa sampai hari ini. itulah Dinamika Pentakosta. Mari kita tetap bersatu sebagai jemaat yang sudah menerima kuasa, yaitu Roh Kudus dan hidup sebagai jemaat yang memuliakan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. #Ketut Mardiasa