Bacaan Alkitab: Mazmur 63:1-9
Mazmur ini menggambarkan
karakter atau kehidupan rohaninya Daud sekaligus sebagai sebuah pengakuan iman
yang dalam setelah ia merenungkan penyertaan TUHAN dari tempat pembaringannya
(Ay. 7). Pada saat Daud menulis Mazmur ini, ia sedang mengalami kekosongan jiwa
seperti yang ia gambarkan, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair
(Ay. 2).
Daud mengambarkan dirinya
demikian karena pada saat itu ia sedang dalam pergumulan dan dikerjar-kejar
oleh Saul untuk membunuhnya, sehingga pada akhirnya ia berada dalam sebuah
tempat yang disebut dengan padang gurun Zif, di sana ia berlindung di balik
bukit-bukit dan pengunangan, “Maka Daud tinggal di padang
gurun, di tempat-tempat perlindungan. Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun
Zif. Dan selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi Allah tidak menyerahkan dia
ke dalam tangannya.” (1 Sam. 23”14; bdk. Mzm. 63:1).
Di Sinilah Daud merasakan kasih dan pemeliharaan TUHAN yang membawa ia membuat
sebuah pengakuan iman kepada-Nya (Ay. 3-6).
Setelah Daud merenungkan
semua yang telah terjadi, luput dari tangan Saul yang hendak membunuhnya, ia
menyadari bahwa itu semua karena pekerjaan tangan TUHAN. “Apabila aku ingat kepada-Mu di
tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, sungguh Engkau telah
menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku
melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.” (Ay. 7-9).
Ini akan menjadi pelajaran
dan penghiburan bagi kita di saat-saat kita sedang mengalami pergumulan. Mari
kita lihat bagaimana Daud menyadari pertolongan TUHAN dalam hidupnya. Daud
menyatakan bahwa;
1. Tuhan Adalah Satu-Satunya Sebagai Penolong (Ay. 8).
Kalimat “Sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku…”
adalah sebuah kalimat yang menyatakan bahwa TUHAN adalah satu-satunya
penolong. Daud memiliki 600 0rang yang menyertainya (1 Sam. 23:13), namun Daud
tidak menyebut 600 orang itu sebagai penolongnya bahkan kemampuannya sendiri
tidak. Ia menggunakan kata-kata khiasan untuk menggambarkan pertolongan TUHAN,
“… dalam naungan sayap-Mu aku akan
bersorak-sorai” (Ay. 8b).
Sayap adalah kata khiasan yang memiliki arti pelindung. TUHAN menolong
Daud dengan cara melindunginya dari jeratan musuh atau dari tangan Saul yang
hendak membunuhnya.
Kita ambil sebuah contoh bagaimana anak ayam melindungi
anak-anaknya dari bahaya, baik dari bahaya binatang buas lainnya maupun dari
keadaan musim yang buruk, yaitu badai, hujan, dingin panas dan lain sebagainya.
Ayam akan menjaga anak-anaknya dengan melindungi di bawah kedua kepak sayapnya,
dan anak-anaknya akan merasakan hangatnya dekapan kasih sayang induknya.
Demikianlah Tuhan sebagai penolong kita. Bahkan Ia dapat melakukan
lebih dari itu, saat-saat kita sedang mengalami pergumulan. Kalau hewan saja
memiliki insting yang begitu kuat untuk melindung anak-anaknya dari bahaya
apalagi TUHAN yang mengasihi kita. Kalau TUHAN sudah melakukan-Nya kepada Daud,
TUHAN juga akan melakukannya bagi kita. Dan kita akan berkata seperti Daud
berkata, sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku. Kita tidak perlu ragu
untuk menjadikan TUHAN sebagai satu-satunya penolong dalam hidup kita. Mari
kita jadikan pertolongan TUHAN sebagai satu-satunya penghiburan ketika kita
menghadapi pergumulan.
2. Tuhan Adalah Satu-Satunya Sumber Kekuatan (Ay. 9).
“… tangan kanan-Mu menopang
aku”. Kata “menopang” diterjemahkan dari kata Ibrani “tamak” yang berarti menyokong, menyangga, menegakkan, membenarkan,
menguatkan dan menjunjung. Inilah yang TUHAN lakukan terhadap Daud.
Ada beberapa pohon pisang ketika berbuah tidak mampu menopang
berat buahnya dengan batangnya yang kecil dan tinggi. Ketika pisang itu berbuah
maka batangnya akan membungkuk mengikuti tekanan beratnya buah. Kalau tidak
ditopang dengan tiang penyangga supaya tetap kuat dan tegak maka pisang itu
kemungkinan besar akan rubuh.
Tujuannya untuk ditopang adalah supaya menjadi tegak dan kuat,
tidak jatuh dan rubuh karena beban berat, “Tetapi mereka menjadi berkurang dan
membungkuk oleh sebab tekanan celaka dan duka.” (Mzm. 107:39).
Pergumulan membuat kita menjadi lemah dan kehilangan kekuatan, “Siapakah
yang bangkit bagiku melawan orang-orang jahat, siapakah yang tampil bagiku
melawan orang-orang yang melakukan kejahatan? Jika bukan TUHAN yang menolong
aku, nyaris aku diam di tempat sunyi. Ketika aku berpikir: "Kakiku
goyang," maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.” (Mzm. 94:16-18).
Daud pada saat berada di padang gurun Zif tentu merasa lemah dan
lelah, disitulah ia merasakan kekuatan Tuhan yang menopangnya sehingga tidak
menjadi lemah. Itulah sebabnya ia berkata, “…tangan kanan-Mu menopang aku”.
Hal ini juga diimbangi dengan imannya Daud yang tidak pernah melupakn TUHAN, “jiwaku
melekat kepada-Mu…”. (Ay. 9a).
KESIMPULAN:
Ketika Daud menyadari melalui
perenungannya bahwa TUHAN telah menolongnya dan memberi kekuatan ketika ia
menghadapi pergumulan, Daud larut dalam penyembahan kepada TUHAN seraya menyatakan kerinduan hatinya yang mengalami kekosongan. Dia mengarahkan
pandangannya kepada TUHAN dan menyadari betapa besarnya kasih TUHAN bahkan
melebihi dari hidupnya (Ay. 2-6).
Daud menyatakan bahwa TUHAN
yang menolongnya adalah satu-satunya sumber pertolongan dalam pergumulan dan
sumber kekuatan dalam kelamahan. Pengalamannya bersama dengan TUHAN telah
menjadi penghiburan bagi Daud bahwa TUHAN setia dalam pemeliharaan-Nya.
Pengalaman Daud ini akan
menjadi penghiburan bagi kita juga sebagai umat TUHAN, bahwa Ia akan menjadi
penolong dan kekuatan kita ketika kita menghadapi pergumulan hidup. mari kita
tautkan hati kita kepada-Nya sebagaimana jiwanya Daud melekat pada TUHAN. TUHAN
Memberkati. #KetutMardiasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar