Minggu, 21 Februari 2021

MANUSIA MEMBUTUHKAN RELASI

"TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2: 18).

Ayat ini sangat dominan dihubungkan dalam konteks pernikahan, sehingga tidak sedikit para hamba-hamba Tuhan mengambil ayat ini sebagai dasar atau landasan khotbah pernikahan. Hal itu berangkat dari pemahaman bahwa manusia ketika itu  hanya seorang diri sementara cipataan Allah yang lainnya hidup berpasang-pasangan, lalu Allah berfirman "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Ayat ini harus dipahami secara lebih luas dan melihat jauh ke depannya, sebab manusia tidak hanya membutuhkan relasi internal saja tetapi juga relasi eksternal. Manusia tidak hanya butuh pemdaping hidup dalam relasi sebagai suami istri tetapi juga relasi yang lebih luas dengan orang lain. Manusia butuh berinteraksi dengan orang lain, membangun wawasan dan pengetahuan yang lebih luas yang kemudian menjadi jawaban atas kebutuhan sosial yang kompleks sehingga dapat bekerja sama. Itulah sebabnya manusia membutuhkan relasi yang lebih luas. Relasi memungkinkan kita bisa terhubung dengan lebih banyak orang, berinteraksi dan membangun komunikasi.

Relasi dan komunikasi menjadi jembatan untuk mencapai tujuan yang diperlukan hidup bersama sebagaimana maksud Allah menempatkan orang lain di sekitar kita, yaitu;

Pertama Agar Manusia Dapat Berinteraksi Dengan Orang-orang Yang Tepat. Tepat dalam artian orang yang memiliki pikiran, pengetahuan dan tujuan yang sama dengan kita. Siapa dia? Itulah orang-orang yang ada di sekitar kita bahkan yang jauh dan tidak kita kenal. Itulah yang dimaksudkan dengan "Sepadan". Sebab ciptakan Allah yang lainnya tidak memiliki seperti apa yang manusia miliki. Allah mengetahui hal itu bahwa manusia tidak mungkin berinteraksi dengan binatang untuk mencapai tujuannya, manusia butuh manusia untuk membangun relasi.

Kedua, Agar Manusia Bisa Hidup Menanggung Beban Bersama. Manusia tidak bisa hidup secara individu, jujur dan harus diakui, itulah sebabnya Allah berfirman "Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja...". Berdasarkan kenyataan ini manusia membutuhkan relasi supaya manusia itu "Menjadi Baik", dalam hal baik keadaannya, baik kelangsungan hidupnya. Manusia tidak lagi bergumul menanggung beban sendiri, Tuhan menempatkan penolong yang sepadan, yaitu sesama kita. 

Manusia membutuhkan relasi, dan kenyataan ini tidak dapat dipungkiri. Relasi itu supaya kita bisa berinteraksi dengan orang-orang yang tepat dan supaya bisa menanggung beban bersama. Dalam situasi COVID-19 ini sangat relevan sekali, mau tidak mau, jujur atau tidak kita membutuhkan relasi. Mari membuka diri dengan sesama kita dan bangun komunikasi yang intens dengan sesama kita supaya kita bisa saling menopang, saling menguatkan dan saling mendorong untuk melakukan kebajikan. Tuhan Yesus memberkati.

Salam sehat:
Pdt. Ketut Mardiasa

Sabtu, 04 April 2020

DIBENTUK DAN DIPULIHKAN

Bacaan Alkitab: Keluaran 12:40-42

A.   PENDAHULUAN
Setelah beberapa minggu kita melewati sebuah proses pembentukan keimanan, kesabaran dan ketaatan melalui sebuah pristiwa yang sedang kita alami saat ini, bahkan bukan hanya kita saja, tetapi juga sebagian besar penduduk bumi dari berbagai belahan dunia dihantui oleh rasa takut akibat dampak dari meluasnya penyebaran COVID-19 Corona Virus. Banyak perusahan yang memilih untuk tutup sementara waktu, hotel-hotel dan restoran merugi, karyawan dan pengawai-pegawainya dirumahkan, para pedagang mengeluh oleh sepinya pembeli, walaupun usaha-usaha pencegahan sudah dilakukan namun sampai saat ini kita belum memperoleh informasi, sampai kapan wabah ini akan berakhir?

Di balik pristiwa ini, banyak orang memandangnya sebagai hukuman Tuhan, kegagalan pemerintah, dan lain sebagainya. Hanya segelintir orang yang berpikir positif dan memandangnya sebagai sebuah proses pembentukan untuk kehidupan yang lebih baik.

Sekarang mari kita kembali mundur untuk melihat sebuah pristiwa pembentukan yang pernah dialami oleh bangsa Israel di Mesir. Alkitab mencatat di dalam Keluaran 12: 40 bahwa, “Lamanya orang Israel diam di Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun.” Di mesir mereka harus diperbudak dan tidak mendapat upah selama 400 tahun (Kej. 15:13). Mereka bekerja bukan untuk dirinya sendiri, bukan pula bagi bangsanya tetapi demi Mesir dan kejayaan Firaun. 400 bukanlah waktu yang singkat, di sana mereka berkembang menjadi banyak, dari yang hanya 70 orang saja kemudian jumlah mereka melebihi penduduk pribumi (Kel. 1:7, 9). Inilah yang kemudian membuat mereka dipaksa untuk bekerja bagi Mesir dan pada akhirnya TUHAN mau membebaskan mereka dari belenggu perbudakan tersebut dan dipimpin-Nya menuju kepada kehidupan yang lebih baik. Mereka harus melewati sebuah pembentukan, pembentukan itu kemudian membawa pemulihan.

B.   PEMBENTUKAN DAN PEMULIHAN
Bagaimana Proses Pembentukan dan Pemulihan itu?

1.    Pembentukan: TUHAN Menginjikan Umat-Nya Melewati Kerasnya Kehidupan.
Ini bukan pembiaran atau TUHAN tidak peduli, bukan. Ini adalah sebuah proses pembentukan karakter, bagaimana keimanan, ketaatan dan ketulusan umat-Nya dimurnikan, supaya dalam keadaan yang tidak dapat memberi kepastian, tetap percaya dan berharap akan pertolongan Tuhan serta mengakui kedaulatan-Nya dalam setiap proses yang kita lewati.

Demikianlah TUHAN membentuk bangsa Israel  di balik kerasnya kehidupan di Mesir, dan pada  akhirnya tiba waktunya di mana TUHAN menyatakan kehendak dan kepedulian-Nya kepada mereka. Hal ini nyata dalam ayat 41, “Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga, keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir.”

Walaupun prosesnya begitu panjang, namun sepanjang itu juga TUHAN memelihara mereka, terbukti ketika mereka masuk ke Mesir hanya terdiri dari 70 orang saja, di Mesir mereka berkembang hingga jumlahnya melebihi orang-orang Mesir. Pada waktu mereka keluar dari Mesir ada 600.000 laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak (Kel. 12: 37), kalau diestimasikan kira-kira ada 2 Juta-an orang. Apakah TUHAN diam dan tidak peduli? TUHAN sangat peduli dengan mereka.

2.    Pemulihan: TUHAN Bertindak Memulihkan
Malam itulah malam berjaga-jaga bagi TUHAN, untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Dan itulah juga malam berjaga-jaga bagi semua orang Israel, turun-temurun, untuk kemuliaan TUHAN.”

TUHAN yang membentuk mereka, pada akhirnya menurut kerelaan dan kehendak-Nya yang dinyatakan dalam kepedulian-Nya bahwa tidak selama-lamanya Ia membiarkan umat-Nya menjalani kerasnya kehidupan di Mesir, Ia juga mau memulihkan kembali keadaan bangsa Israel untuk kehidupan yang lebih baik. Malam terakhir sebelum mereka keluar dari Mesir, adalah malam persiapan untuk memasuki babak kehidupan baru, melangkah maju menuju harapan baru.

Ke mana mereka akan dibawa? Keluaran 3:8 mencatat bahwa, “Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.”

C.   KESIMPULAN
Proses yang TUHAN ijinkan terjadi dalam kehidupan kita sebagai umat TUHAN bukanlah sebagai bentuk penghukuman melainkan sebagai tanda kasih-Nya melalui proses pembentukan untuk kehidupan yang lebih baik. TUHAN menyatakan kehendak-Nya tidak bergantung pada keadaan dan tindakan manusia melainkan berdasarkan kepada kehendak dan kedaulatan-Nya sendiri.  Ketika Ia mengijinkan proses terjadi, pada waktu-Nya yang tepat Ia juga akan memulihkan kita.

D.   PENERAPAN
Di tengah-tengah situasi kiris di mana hampir di seluruh dunia merasakan efek penyebaran Corona Virus yang sedang mewabah dan melumpuhkan sendi-sendi perekonomian bangsa-bangsa yang berimbas pada seluruh warga masyarakat, mari kita memandang ini sebagai proses pembentukan TUHAN terhadap hidup kekristenan kita, supaya kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya saja dan bertekun mencari kehendak-Nya melalui firman-Nya. Kita sedang dituntun oleh TUHAN ke arah yang lebih baik. Walaupun tidak seorang pun yang tahu kapan Corona Virus ini akan berakhir, mari kita tetap percaya bahwa ada waktunya TUHAN yang akan segera memulihkan kita. TUHAN Yesus memberkati.

Selasa, 25 September 2018

BERJALAN MENGIKUTI PROSES

Bacaan Alkitab: 1 Kor. 10:13

A. PENDAHULUAN

Berbagai cara pandang orang terhadap Pencobaan

1. Sebagai Suatu Bagian Dari Kehidupan Yang Memang Harus Terjadi (Orang cenderung bermasa bodo/ tidak terlalu memikirkan, biarlah mengalir begitu saja namun tidak ada peduli tujuannya).

2. Sebagai Masalah Yang Mengganggu dan Melemahkan (Orang cenderung terlarut Dalam Duka dan Pergumulan yang mendalam).

3. Sebagai Sebuah Proses Untuk Sampai Kepada Kehidupan Yang Lebih Baik. (Masih memiliki rasa optimisme dan memandang Pencobaan Sebagai Batu Lompatan).

Bagaimana Cara Pandang Kita? Kalau kita melihat kepada ajaran Alkitab, pencobaan adalah sebuah proses. Proses hingga kita sampai pada puncak pergumulan, di mana Tuhan akan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya untuk membawa kita pada pemulihan secara spiritual. Oleh Karena itu, kita terus berjalan mengikuti proses itu sekalipun tantangannya berat dan melelahkan, menguras banyak energy.

B. MENGIKUTI PROSES

Rasul Paulus meengajar kita untuk mengikuti proses itu dengan sebuah keyakinan bahwa:

1. Tuhan Akan Menyertai Kita.

Allah Itu Setia. Artinya bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita berjuang sendiri melewati masa-masa sulit. (bdk. Ib. 13:5b).

Kesetiaan Tuhan tidak bergantung pada keadaan baik buruknya situasi dan kondisi, tidak bergantung pada musim, dan tidak juga bergantung pada kehendak dan keinginan manusia.

2. Tuhan Memahami Batas-batas Kemampuan Kita.

Peencobaan itu adalah pencobaan biasa yang tidak melampau batas-batas kemampuan manusia.

Allah yang menciptakan kita, Ia tahu siapa, apa, dan bagaimana kita. Allah tidak meenciptakan sesuatu setara dengan diri-Nya, tetapi memiliki batas-batas supaya mereka bergantung kepada penciptanya dan memuliakan-Nya. Namun bukan berarti Allah akan diam saat-saat kita berada pada puncak pergumulan. Allah akan membawa kita jauh lebih tinggi namun tidak akan menghempaskannya kembali, melainkan ia menunjukkan kebesaran kuasa-Nya yang mahadahsyat.

3. Tuhan Akan Menolong Kita.

Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggunya.

Ketika Tuhan membawa kita kepada puncak pergumulan atau pencobaan, Ia mau supaya kita tahu bahwa Ia lebih besar dari masalah kita, Ia lebih besar dari pegumulan dan kebutuhan kita. Ia akan menuntun kita kembali menemukan kehendak-Nya melalui jalan keluar yang ditunjukkan-Nya.

C. KESIMPULAN
Proses adalah cara Tuhan untuk menolong kita bertumbuh dalam iman dan memahami rencana-Nya bahwa Tuhan menyertai kita, mengerti dan menolong kita.

D. PENERAPAN
Mari ubah paradigma kita tentang pencobaan, mari jalani pencobaan itu sebagai sebuah proses. Anggaplah pencobaan itu sebagai suatu kebahagiaan (Yak. 1:2). Tuhan Yesus memberkati.

Minggu, 09 September 2018

KEADILAN ALLAH

Bacaan Alkitab: 2 Tes. 1:3-11

A. PENDAHULUAN
Tuhan menyatakan kehendak-Nya bukan berdasarkan asumsi manusia. Tuhan pasti akan melakukan ini dan itu berdasarkan apa yang dipandangnya baik tanpa mengerti kehendak-Nya secara benar. Bahkan ada orang yang hidupnya bertentangan dengan kehendak Tuhan berani berkata dan melakukan pembelaan diri bahwa Tuhan itu penuh kasih dan penyayang, Tuhan pasti akan membelanya walaupun ia sudah berlaku tidak benar.

Tuhan tidak dapat diatur oleh kehendak dan keinginan manusia. Tuhan melakukan kehendak-Nya berdasarkan pada cara-Nya yang terbaik untuk menyatakan kasih dan keadilan-Nya pada manusia. Dengan keadilan Ia menghukum dan dengan kasih Ia menyatakan kebaikkan-Nya. Artinya Allah yang penuh kasih bukan berarti tidak menghukum dan Allah yang adil bukan berarti Ia memberikan hak-hak yang sama kepada orang benar dan kepada orang berdosa.

Dalam pembacaan Alkitab hari ini, kita diberikan sebuah pandangan atau pengertian bagaimana Allah yang adil itu bertindak. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika bahwa jemaat di Tesalonika bukan saja mendapat peenghargaan tertinggi karena pertumbuhan iman mereka kepada Tuhan dan kasih kepada sesama jemaat (Ay. 3), tetapi Paulus juga menyatakan bahwa mereka layak  di hadapan Allah, yaitu dilayakkan menjadi warga kerajaan Sorga oleh karena keteguhan dan ketabahan mereka dalam menghadapi penganiayaan dan penindasan (Ay. 4-5), dan menghukum orang-orang yang hidupnya tidak tertib dan melawan kehendak Allah (Ay. 8-9).

B. KEADILAN ALLAH
Mari kita melihat lebih dalam lagi tentang keadilan Allah. Bagaimana Allah bertindak menyatakan keadilan-Nya?

1. Memberikan Reward Kepada Orang-Orang Yang Telah Berjuang Dalam Iman Kepada Tuhan dan Kasih kepada Sesama (Ay. 3-5).

Reward atau penghargaan yang jemaat Tesalonika terima dikatakan sebagai wujud keadilan Allah kepada mereka yang telah berjuang dalam iman kepada Tuhan dan yang telah memelihara kesatuan dalam kasih kepada sesama.

Iman dan kasih mereka bertumbuh, bukan saja membuat Rasul Paulus merasa sangat bangga sehingga ia "wajib mengucap syukur" (Ay. 3), tetapi juga menobatkan mereka sebagai orang-orang benar di hadapan Allah sehingga mereka layak menjadi warga Kerajaan Allah (Ay. 5). Ini adalah sebuah prestasi yang sangat membanggakan dan sekaligus menjadi pengharapan kekal.

Pertanyaannya, Apakah kita sudah berjuang dalam iman kepada Tuhan dan sudah menjaga kesatuan kasih dengan sesama kita? sudah layakkah kita mendapat penghargaan menjadi warga Kerajaan Allah? Mari kita terus berjuang sampai kita layak menerima keadilan Allah.

2. Menghukum Orang-Orang Berdosa dan yang tidak tertib Dalam Iman Kepada Tuhan (Ay. 5-6, 8-9).

Setelah menyatakan bahwa jemaat di Tesalonika layak mendapat reward dari Tuhan, Paulus mau supaya mereka tetap stabil dalam iman kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Ia menyatakan bahwa orang-orang berdosa dan orang-orang yang tidak tertib dalam iman akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya (Ay. 9).

Apakah artinya itu, bahwa Tuhan tidak mengasihi mereka. Tidak, Allah mengasihi mereka namun mereka telah memilih jalannya sendiri yaitu hidup mengikuti kemauan dan kehendaknya sendiri dan lepas dari kontrol firman Allah atau Injil Kristus. Kasih bukan berarti tidak menghukum dosa. Jika Allah yang Kasih itu tidak menghukum dosa berarti Allah sudah berlaku tidak adil.

Rasul Paulus sudah menjelaskan bagaimana Allah memberi keadilan. Hukuman yang dilakukan Allah juga merupakan wujud keadilan Allah, dan memberikan kelegaan kepada orang-orang tertindas (Ay. 6-7).

Semua orang yang hidup benar yang telah berjuang pada jalan kebenaran akan dimuliakan pada waktu Kristus menyatakan diri-Nya (Ay. 10-12).

Pertanyaannya, Apakah pilihan kita? Berjuang dalam iman walaupun penuh tantangan namun akhirnya kita dilayakkan di hadapan Tuhan atau terus bertahan dalam kehidupan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan yang pada akhirnya kita binasa?

C. KESIMPULAN
Allah menyatakan keadilannya dengan memberikan reward atau penghargaan kepada mereka yang telah berjuang dalam iman dengan melayakkan menjadi warga Kerajaan Allah. Allah menghukum mereka yang hidup tidak tertib dalam iman yang berujung pada kebinasaan sampai selama-lamanya.

D. PENERAPAN
Sebagai orang-orang percaya kepada Tuhan dan yang sudah mengenal kebenaran Injil Kristus, mari kita terus berjuang walaupun harus menderita, sebab Tuhan pasti menyatakan keadilan-Nya kepada orang-orang yang tertindas dan menghukum mereka yang berlaku tidak benar di hadapan Allah. Tuhan Yesus memberkati.

Sabtu, 18 Agustus 2018

ROH YANG MEMERDEKAKAN

Bacaan Alkitab: Roma 8: 1-2

A.   PENDAHULUAN
Ketika kita menjadi seorang Kristen, kita hidup dalam Kristus dan memperoleh segala hak yang diberikan Kristus kepada kita. Hak yang paling berharga dan istimewa adalah anugerah keselamatan yang memimpin kita kepada kehidupan kekal. Kristus Membebaskan kita dari segala belenggu dosa dan ikatan duniawi yang memimpin kita kepada kematian atau kebinasaan. Kita telah dibenarkan oleh iman kepada Kristus sehingga kita tidak dihukum (bdk. Gal. 2:16).

Ketika Kristus membenarkan kita oleh iman, itu awal kemenangan kita terhadap belenggu dosa dan tuntutan hukum Taurat; Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” (Ay. 1). Kita telah dimerdekakan. Merdeka artinya bebas (dari belenggu dan dari penjajah), tidak terikat, dan lepas dari tuntutan. Demikianlah Kristus memerdekankan kita dari dosa dan tuntuntan hukum Taurat, sehingga kita tidak dihukum.

Betapa bahagianya kita yang hidup dalam Kristus,  bukan hanya pada kehidupan sekarang ini karena kita telah dibenarkan, tetapi juga kepada kepastian keselamatan di masa yang akan datang. Semua orang yang mengetahui rahasia ini, bahwa Kristus telah memberikan anugerah keselamatan yang memimpin kepada kehidupan kekal pasti akan berbondong-bondong datang kepada Kristus. Tetapi semuanya tidak terlepas dari peranan Roh Kudus dalam kehidupan kita; Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Ay. 2).

B.   ROH YANG MEMERDEKAKAN
Roh Kudus memiliki peran yang sangat penting sehingga kita benar-benar merdeka dari dosa dan bebas dari tuntutan hukum Taurat yang memimpin kita kepada keselamatan. Bagaimana peranan Roh Kudus itu?

      1.    Roh Kudus Memimpin Kita Kepada Kristus
Supaya kita hidup dalam Kristus dan memperoleh segala hak kita, Roh Kudus menolong kita mengenal Kristus secara pribadi sehingga kita dapat mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan (bdk. 1 Kor. 12:3).

Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan kalau bukan pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus memimpin kita untuk mengenal Dia secara pribadi sehingga oleh-Nya kita beroleh pengampunan dosa dan beroleh hidup yang kekal. Roh Kudus memimpin kita memperoleh kemenangan dalam Kristus dan kita benar-benar merdeka dari segala tuntutan hukum dosa dan hukum maut.

Apa itu hukum dosa dan hukum maut? Hukum dosa adalah semua orang telah berdosa harus mati, “sebab upah dosa adalah maut…” (Rm. 6:23). Hukum maut adalah kematian kekal sampai selama-lamanya, yang diperuntukkan bagi mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak menaanti Injil Kristus (2 Tes. 1:8-9).

Ketika kita dipimpin kepada Kristus, kita benar-benar telah merdeka, Kristus telah  menanggung beban dosa kita melalui kematian-Nya di atas kayu salib, Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” (Rm. 6:18). Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” (Rm. 6:22).

Berdasarkan ayat tersebut, maka sangat kuatlah steatment atau apa yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam Roma 8:1, Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Demikianlah kita benar-benar merdeka hidup dalam Kristus.

      2.    Roh Kudus Memeteraikan Kita Dalam Kristus
Roh Kudus bukan hanya memimpin kita kepada Kristus, tetapi juga memeteraikan kita dalam Kristus. Roh Kudus menjadikan kita benar-benar milik Kristus, dan ketika kita benar-benar menjadi milik Kristus, kita telah memiliki jaminan bahwa kita tidak dapat dikuasai lagi oleh dosa yang memimpin kita kepada kebinasaan atau kepada maut, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. (Yoh. 10:28).

Roh Kudus memeteraikan kita dan sekaligus sebagai materai itu sendiri untuk menjamin bahwa kita telah merdeka dari segala tuntutan dosa dan tidak akan kehilangan keselamatan dalam Kristus (Ef. 4:30; 1:13).

Hal tersebut memberikan keyakinan penuh kepada kita, bahwa ketika kita hidup dalam Kristus tidak ada lagi hukuman yang akan menimpa kita.

C.   KESIMPULAN
Kemerdekaan oleh Roh Kudus, apabila kita benar-benar memberi hidup kita dipimpin oleh-Nya kepada Kristus yang dapat membebaskan kita dari belenggu duniawi dan dari segala tuntutan dosa. Dan ketika kita memberi hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus, Ia juga memeteraikan kita menjadi milik Kristus sekaligus menjadi jaminan bahwa kita memiliki jaminan hidup kekal dan bebas dari hukuman.

D.   APLIKASI
Kita yang telah merdeka dalam Kristus melalui pimpinan Roh Kudus, mari kita hidup sebagai hamba Allah (1 Pet. 2:16), mari kita menjadi hamba Kebenaran (Rm. 6:18). Tuhan Yesus memberkati. #DMS

Sabtu, 28 Juli 2018

MELAYANI DENGAN POLA PELAYANAN YESUS


Bacaan Alkitab: Markus 1: 35-42


A.  PENDAHULUAN
Akan lebih mudah bagi seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan berhasil apabila mereka bekerja mengikuti pola atau dengan system yang sudah ada. Tidak terlalu banyak membuang-buang energy, menguras tenaga, waktu, pikiran dan perasaan untuk mencapai hasil atau tujuan yang diharapkan. Bekerja dengan pola akan mempermudah dan mempercepat pekerjaan itu dapat diselesaikan dengan baik bahkan bisa menambah volume pekerjaan itu sendiri. Demikian juga halnya dengan pelayanan atau melayani Tuhan.

Tuhan telah meninggalkan pola yang sangat baik bagi kita untuk diterapkan dalam pelayanan maupun dalam pekerjaan kita masing-masing sebagai anak-anak Tuhan. Ketika Tuhan Yesus hendak memulai pekerjaan-Nya untuk memberitakan Injil, nampaknya Ia tidak hanya pergi begitu saja tanpa mempersiapkan perencanaan yang baik terlebih dahulu. Ia pasti memikirkan bagaimana Ia memulai dan bagaimana melakukannya. Pekerjaan tanpa perencanaan dan strategi tentu tidak akan mendapatkan hasil yang baik.

Semua orang punya caranya sendiri untuk berhasil, tetapi tidak sedikit orang gagal karena terlalu berambisi untuk berhasil dengan cepat namun mengabaikan hal-hal yang sederhana dan menganggapnya sebagai hal yang tidak penting dan tidak perlu mendapat perhatian. Sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil, sesuatu yang besar dimulai dari hal-hal yang sederhana. Hal yang kecil dan yang sederhana adalah tahapan awal terjadinya perubahan yang besar. Mengabaikan hal yang kecil dan sederhana sama artinya secara tidak sadar sudah merencanakan kegagalan sejak dini.

Tuhan Yesus telah memberikan sebuah contoh kepada kita melalui sebuah perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25: 14-30. Yang menerima lima talenta dan dua talenta mengembangkannya masing-masing menjadi sepuluh dan empat talenta, (ay. 15-17) tetapi yang menerima satu talenta mengabaikannya dengan berbagai alasan sehingga tidak menghasilkan apa-apa (ay. 18, 24-25). Yang menerima lima dan dua talenta menerima pujian dari tuanya Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (ay. 21, 23). Hamba yang menerima satu talenta disebut sebagai hamba yang jahat dan malas, ia mengalami kegagalan total (ay. 26-30). “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Luk. 16:19). Inilah contoh dari mengabaikan hal yang sederhana dan menganggapnya kecil dan tidak penting.

B.  POLA PELAYANAN YESUS
Sekarang mari kita perhatikan bagaimana pola Tuhan Yesus dalam melakukan pekerjaan-Nya. Bagaimana Ia memulai pekerjaan-Nya dan bagaimana juga melakukannya.

     1.   Mengawali Dengan Berdoa (Ay. 35).
Hal yang paling penting dalam semua aktivitas kehidupan manusia bukanlah kekuatan secara fisik, kecerdasan berpikir dan pengetahuan atau wawasan yang luas, walaupun semuanya itu penting dan mutlak dibutuhkan dalam bekerja untuk meraih keberhasilan. Doa berada di atas semuanya itu. Oleh karena itu doa harus menjadi bagian terpenting dan tidak boleh dilupakan dalam semua aktivitas yang kita lakukan.

Dengan mengawali semua aktivitas kita dengan doa, berarti telah menyerahkan semua yang akan kita lakukan dan kerjakan kepada pimpinan Tuhan dan membiarkan Dia terlibat dalam semua keputusan dan perencanaan. Semua perencanan yang dibangun berdasarkan kecerdasan dan kemampuan manusia akan gagal kalau bukan Tuhan yang melaksanakannya, “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.” (Ams. 19:21).

Doa menjadi pondasi dari segala sesuatu yang kita bangun dengan kecerdasan dan kemampuan kita. Itulah sebabnya Tuhan Yesus memulai pekerjaan atau pelayanan-Nya memberitakan Injil dengan berdoa. Pagi-pagi buta Ia telah membangun pondasi dari seluruh pelayanan-Nya dengan doa (ay. 35).

Sering sekali kita lupa dan mengabaikan hal yang penting dari yang terpenting ini. Hari ini Tuhan Yesus mengajar kita untuk memulai segala aktivitas pekerjaan dan pelayanan kita dengan berdoa.

      2.   Mulai Dari Yang Paling Mudah dan Sederhana (Ay. 36-38).
Ketika seseorang melihat sesuatu yang lebih besar, pekerjaan yang lebih menjanjikan masa depan, mereka lupa dengan kapasitas dirinya sehingga melupakan hal-hal paling kecil dan yang sederhana sekalipun. Keinginannya yang besar tidak diimbangi dengan kemampuannya yang besar. Keinginan yang besar  harus dimulai dari yang paling mudah dan sederhana atau dengan kata lain, sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil. Pengetahuan dan pemahaman ini akan menolong kita untuk tidak mengabaikan hal-hal yang kecil dan sederhana.

Tuhan Yesus tidak pergi ke tempat yang jauh untuk menjanggkau ladang pekerjaan yang lebih besar sebelum Ia menyelesaikan pekerjaan yang terdekat dan mudah dijangkau. Setelah selesai berdoa Ia mengajak murid-murid-Nya untuk pergi ke kota-kota yang berdekatan (ay. 38). Artinya tempat yang paling mudah dijangkau atau pekerjaan yang paling mudah untuk dikerjakan sebagai tahapan awal untuk memulai pekerjaan berikutnya yang lebih besar.

Hal ini penting untuk kita terapkan dalam pelayanan dan pekerjaan kita. Kita tidak akan pernah bisa menjadi besar kalau kita mengabaikan hal-hal yang mudah dan sederhana karena berambisi untuk cepat menjadi besar. Semua pekerjaan baik di gereja maupun pekerjaan-pekerjaan lainnya di luar gereja berjalan mengikuti proses dari tahapan yang paling mudah hingga kepada tahapan yang besar sekalipun. Karena itu, mari kita lakukan dengan setia yang hal-hal yang mudah, kecil dan sederhana yang akan mengantar kita kepada pekerjaan atau tanggung awab yang lebih besar.

      3.    Mengembangkan Kepada Pekerjaan Yang Lebih Luas (Ay. 39a).
Mengembangkan pekerjaan yang lebih besar adalah hal yang sudah biasa dilakukan oleh setiap orang untuk mendapatkan hasil yang lebih besar bahkan sebisa mungkin menguasai pangsa pasar di tengah-tengah persaingan yang besar.

Tuhan Yesus melakukan hal yang sama setelah Ia menyelesaikian pekerjaan-Nya yang lebih mudah. Ia melangkah lebih jauh lagi untuk menguasai semua suku-suku di mana pekerjaan pemberitaan Injil dapat diterima oleh semua orang. Ia mengembangkan pelayanan-Nya ke seluruh kota Galilea, Lalu Pergilah Ia ke seluruh Galilea”.

Tidak terlalu sulit bagi-Nya untuk melangkah dan mengembangkan pelayanan-Nya ke daerah-daerah yang lebih luas, karena yang pertama Ia telah memulainya dengan doa dan menyelesaikan pekerjaan pelayanan-Nya mulai dari yang terdekat dan mudah dijangkau. Keberhasilan pada tahap yang mudah, pada luar lingkup yang kecil dan sederhana membawa-Nya untuk memandang kepada ladang yang lebih besar untuk dikerjakan.

Ini sekaligus menjadi contoh bagi kita dalam mengembangkan pelayanan di gereja, supaya kita tidak puas dengan keberhasilan yang kini dipercayakan kepada kita, tetapi juga harus mampu melihat keluar kepada ladang yang lebih luas.

     4.   Menuntaskan Pekerjaan Yang Masih Ada (Ay. 39b-42).
Kepuasaan seorang pekerja adalah menuntaskan pekerjaannya dengan baik. Tidak menyisakan dan menunda pekerjaan yang masih ada dan yang masih bisa dikerjakan pada waktu bersamaan.

Tuhan Yesus menuntaskan pekerjaan-Nya dengan baik dan tidak meninggalkan proyek mangkrak untuk dibiarkan atau dikerjakan oleh orang lain dikemudian hari.

Pekerjaan apa saja yang dituntaskan oleh Tuhan Yesus, pertama-tama tujuan adalah memberitakan Injil, “… supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang” (ay. 38b), tetapi kemudian ada pekerjaan yang lain yang harus dikerjakan secara bersamaan yaitu mengusir setan-setan (ay. 39b) dan menyembuhkan orang-orang sakit (ay. 40-42).

Tuhan Yesus tidak membiarkan setan-setan mengahantui keberadaan orang-orang yang telah diajarkan firman Tuhan dan tidak juga meninggalkan mereka tetap berada dalam penderitaan secara fisik oleh karena sakit penyakit. Tuhan Yesus menuntaskan semuanya itu dalam satu pekerjaan sekaligus, karena setan-setan dan sakit penyakit tentu akan menjadi penghalang orang-orang menerima berita Injil.

Dalam pelayanan atau pekerjaan-pekerjaan lainnya  kita juga sering diperhadapkan dengan tugas tambahan yang sebenarnya bukan menjadi tujuan dan perioritas kita, tetapi itu juga harus kita selesaikan supaya tidak ada yang mengganggu keberhasilan pelayanan dan pekerjaan kita.

C.  KESIMPULAN
Tuhan Yesus Melayani dengan pola-pola sangat sederhana dan mudah untuk kita terapkan dalam pelayanan maupun dalam pekerjaan kita. 

Pola itu tersusun dengan sangat sistematis yang diawali dengan doa atau penyerahan diri untuk sebuah tanggung jawab yang besar, mulai mengerjakan yang paling mudah dijangkau atau dikerjakan, mengembangkan ke ke tempat yang lebih luas dan menuntaskan pekerjaan pelayanan-Nya dengan baik.

D.  PENERAPAN
Apa yang bisa kita lakukan dalam pekerjaan dan pelayanan kita? Mari kita menerapkan pola pelayanan atau pekerjaan yang seperti yang Tuhan Yesus lakukan.

Tuhan Yesus memulai dengan doa dan penyerahan diri dan dapat mengakhirinya dengan tuntas. Awal yang baik menghasilkan akhir yang baik. Awal yang buruk akan menghasilkan akhir yang buruk juga. Ketika kita mulai dengan Tuhan, maka kita akan menuai hasil yang baik dan juga tuntas (bdk. Fil. 1:6). #MDS

Sabtu, 21 Juli 2018

KARAKTER HIDUP ORANG PERCAYA


Bacaan Alkitab: Yakobus 5:7-11

A.   PENDAHULUAN
Hidup sebagai seorang Kristen yang sungguh-sungguh bukan hanya sebuah identitas yang nampak dari luar saja tetapi yang terpenting adalah kualitas hidup yang lahir dari hati yang beriman kepada Tuhan kemudian terpancar melalui karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Karakter hidup Kristen yang baik ditunjukkan melalui cara kita menyikapi suatu keadaan entah itu keadaan baik maupun buruk. Terutama saat-saat kita berhadapan dengan suatu keadaan yang memaksa semua orang untuk menyerah dan berpikir untuk mundur dari perhelatan hidup yang semakin berat.

Berpandangan positif adalah salah satu cara terbaik untuk bertahan dan terus berjuang walaupun harus terluka. Proses yang berat adalah sebuah tantangan untuk sampai kepada tujuan yang lebih besar. Inilah juga yang tersirat dalam pesan yang disampaikan oleh Yakobus kepada dua belas suku Israel yang ada diperantauan (Yak. 1:1), supaya mereka membangun karakter hidup Kristen yang kuat menghadapi banyaknya pencobaan yang datang sehingga mereka dapat bersabar sampai kepada kedatangan Tuhan yang kedua kali.

Pemahaman yang benar seperti inilah yang akan membentuk karakter hidup kita sebagai orang-orang percaya kepada Tuhan sekalipun kita diperhadapkan dengan banyaknya pencobaan di dunia ini.
B.   KARAKTER ORANG PERCAYA
Pemahaman yang benar terhadap suatu keadaan melahirkan sebuah karakter kehidupan baik seperti apa yang diharapkan oleh Yakobus kepada pembaca suratnya.

      1.    Memiliki Keteguhan Hati Sambil Menantikan Kedatangan Tuhan Yang Kedua Kali (Ay. 7-9).
Keteguhan hati adalah sebuah sikap yang mencerminkan karakter hidup yang beriman kepada Tuhan. Keteguhan hati akan nampak saat-saat seseorang berada di dalam zona kehidupan yang berbahaya, karena di situlah ujian yang sesungguhnya yang memaksa kita untuk menentukan sebuah sikap, maju untuk sebuah tujuan atau mundur karena tantangan.

Mengapa kita harus memiliki keteguhan hati? Yakobus mengajak pembaca surat untuk memandang jauh ke depan, yaitu pada kedatangan Tuhan yang kedua kali (Ay. 8). Yakobus meyakinkan para pembaca suratnya bahwa penderitaan yang mereka hadapi kini akan berakhir dengan indah pada waktu kedatangan Tuhan yang kedua kali, sehingga mereka harus tetap menjaga stabilitas kehidupan mereka supaya tidak terpancing dengan keadaan, tidak bersungut-sunggut yang menyebabkan terjadinya pertengkarang antara sesama anggota tubuh Kristus.

Kesabaran mereka dalam menghadapi penderitaan akan berakhir indah, seperti seorang petani yang menantikan hasil yang berharga dari hasil tanahnya dan bersabar sampai kepada pergantian musim tiba (Ay. 7). Demikianlah seorang Kristen harus memiliki keteguhan hati dan bersabar hingga Tuhan datang.

      2.    Belajar Dari Kisah dan Ketekunan Para Nabi (Ay. 10-11).
Belajar dari kisah kehidupan orang lain yang sudah  berhasil melewati sebuah proses kehidupan adalah  hal yang sangat penting bagi kita, di mana kita bisa menerapkan sebuah teladan kehidupan yang telah mereka lakukan, kita dapat memetik nilai-nilai kehidupan yang memimpin kepada akhir yang memuaskan dan membanggakan.

Yakobus mengarahkan para pembacanya suratnya untuk melihat kembali teladan kehidupan yang telah diwariskan oleh para nabi ketika mereka menghadapi sebuah penderitaan, walaupun mereka hidup menuriti kehendak Tuhan, namun mereka juga tidak luput dari yang namanya penderitaan (Ay. 10), namun akhirnya mereka juga sampai kepada titik yang melegakan yaitu pemulihan dan kemenagan melewati sebuah proses, sebuah akhir yang membahagiakan.

Yakobus memberikan contoh dari kisah kehidupan nabi Ayub; Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” (Ay. 11).

Tuhan Yesus juga menyebutkan bahwa nabi-nabi kita terdahulu juga mengalami berbagai-bagai penderitaan; “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat. 5:12).

Kita mendapat gambaran yang begitu indah tentang akhir dari sebuah perjunagan melewati proses yang memaksa untuk menyerah dan mundur. Itulah sebabnya pada awal suratnya, Yakobus menyebut berbahagia orang-orang yang jatuh ke dalam berbagai-bagai penderitaan, karena ada akhir yang jauh lebih indah daripada memutuskan untuk mundur (Bdk. Yak. 1:2-4).

C.   KESIMPULAN
Yakobus memberikan gambaran tentang bagaimana sikap kita sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan dalam menghadapi penderitaan atau masalah-masalah kehidupan di dunia ini.

Karakter hidup kita akan tercermin melalui cara kita menyikapi sebuah keadaan, yaitu tetap bersabar dan memiliki keteguhan hati karena pengharapan akan akhir yang lebih baik pada waktu kedatangan Tuhan yang kedua kali dan selalu belajar dari teladan kisah kehidupan para nabi-nabi Tuhan yang mengalami penderitaan.

D.   PENERAPAN
Bagaimana dengan karakter hidup kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan? Mari kita memandang penderitaan yang sering kita alami sekarang ini sebagai sebuah proses untuk melangkah kepada kehidupan yang lebih baik sambil memandang jauh ke depan. Teruslah belajar dari kehidupan orang-orang yang telah berhasil melewati beratnya tantangan kehidupan di dunia ini. Tuhan Yesus Memberkati. #MDS22072018