Pembacaan
Alkitab: Mazmur 103:1-14
Mazmur ini adalah Mazmur pujian akan
kebesaran kasih Tuhan yang dinyanyikan oleh Daud. Ia benar-benar mengalami
bagaimana Tuhan telah menolong hidupnya yang kemudian membawa dia kepada suatu
kesadaran yang dalam untuk menyembah kepada Tuhan. Dia berkata; “Pujilah TUHAN, hai jiwaku!
Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku,
dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Ay. 1-2).
Kemudian Daud mulai mengingat dan memaparkan bagaimana bentuk-bentuk
kasih Tuhan telah menolong hidupnya
sebagai berikut;
1.
TUHAN telah mengampuni segala kesalahannya (Ay. 3a)
2.
TUHAN telah menyembuhkan segala penyakitnya (Ay. 3b)
3.
TUHAN telah menyelamatkan dia dari bahaya kematian (Ay. 4a)
4.
TUHAN memberikan kehormatan kepada dengan kasih setia dan rahmat
(Ay. 4b)
5.
TUHAN memenuhi kebutuhannya dengan segala kebaikan (Ay. 5)
6.
TUHAN telah memberikan keadilan kepada orang-orang yang
diperlakukan tidak adil (Ay. 6)
7.
TUHAN telah membimbing umat-Nya pada jalan-jalan-Nya (Ay. 7)
8.
TUHAN itu penyayang dan berlimpah kasih setia (Ay. 8)
9.
TUHAN tidak mendendam dan menghukum setimpal dengan kesalahan kita
(Ay. 9-10, 12)
10.
TUHAN itu sangat pengertian dengan umat-Nya (Ay. 13-14).
Setelah menceritakan semuanya itu, pada akhirnya Daud tidak lagi
dapat mengukur kasih TUHAN dengan kata-kata dan kalimatnya sendiri. Betapa
banyaknya hal-hal yang telah TUHAN nyatakan kepada dirinya dan juga umat Tuhan
berdasarkan apa yang ia ingat dan sadari.
Untuk menunjukan kebesaran
kasih Tuhan yang lebih besar dan tak dapat diukur dari apa yang telah ia
sebutkan tadi, ia berkata; “Tetapi setinggi langit di atas bumi,
demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia.”
(Ay.11).
Pengakuan Daud akan kebesaran kasih Tuhan menunjukan
fakta kepada kita bahwa kasih Tuhan sungguh adalah kasih yang tak terbatas,
kasih yang tak dapat diukur dengan kemampuan dan kecerdasan manusia.
“Setinggi langit di atas
bumi, demikianlah besarnya kasih setia-Nya…”.
Adakah seseorang dapat
mengukur tingginya langit? Fakta menunukkan bahwa manusia tidak dapat mengukur
tingginya langgit.
Semua yang ada di dunia ini
dapat diukur dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Besar dan beratnya,
panjang dan lebarnya suatu benda dapat diukur dengan IPTEK walaupun melampau
batas kecerdasan dan kemampuan manusia, panas atau dinginnya cuaca dapat dikur
dengan IPTEK, dalamnya lautan dapat diukur, tingginya benda-benda langit dapat
diukur, tetapi adalah suatu penelitian yang dapat memberikan jawaban yang pasti
seberapa tingginya langit? Adakah ditemukan sudut atau ujungnya?
Sungguh tingginya langit
tidak dapat diukur dengan apapun juga, itulah sebabnya Daud tidak lagi dapat
berkata-kata tentang kasih dan kesetiaan TUHAN selain menggambarkannya dengan
kalimat; “Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya
atas orang-orang yang takut akan Dia.”
Kita mungkin bisa bercerita
tentang kasih TUHAN dalam hidup kita kepada orang lain yang kita jumpai, kepada
teman, rekan kerja atau orang yang paling dekat dalam hidup kita, namun mungkin
hanya sebatas apa yang kita alami, kita lihat dan kita rasakan, namun yang
lebih dari pada itu, panjang dan lebarnya, besar dan tingginya tidak dapat
diukur dengan kata-kata dan perasaan kita. Kasihnya jauh lebih besar dari apa
yang kita lihat dan yang kita rasakan. Dengan apakah kita dapat mengukur?
“Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.” Sekalipun
manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan ilmu pengetahuan dan tekhnologi
yang mengukur segala sesuatu untuk mencari pengetahuan tentang keberadaan alam
semesta atau suatu benda, namun manusia tetaplah makhluk yang terbatas.
Manusia
yang kecil tidak akan pernah mampu mengukur Allah yang Besar, manusia yang
terbatas tidak akan mampun mengukur Allah yang tidak terbatas! Tetapi kasih
Allah melampau semua pengetahuan manusia. Manusia yang adalah debu namun
diperhatikan dengan sangat istimewa oleh Allah, Ia yang menjangkau manusia yang
terbatas pengertian dan pengetahuannya seperti apa yang telah Daud ceritakan
tadi, itulah kasih Allah yang tidak terukur.
Sebutir
dedu yang sangat kecil dan sangat mudah terombang-ambing menggambarkan
kelemahan dan keterbatasan manusia, namun kasih Allah yang tidak terukur telah
menjadikan kita istimewa “seperti bapa
sayang kepada anak-anaknya, demikianlah Tuhan sayang kepada orang-orang yang
takut akan Dia”. (Ay. 13).
KESIMPULAN
Kasih Allah yang tak terbatas adalah
kasih yang tidak dapat diukur oleh kemampuan dan kecerdasan manusia,
setingginya langit demikianlah besarnya kasih Allah kepada kita. Kepedulian-Nya
kepada manusia yang lemah dan terbatas telah menjadikan manusia istimewa di
hadapan-Nya.
Seperti bapa sayang kepada
anak-anaknya, demikianlah Allah menyayangi kita. Perasaan kita terlalu kecil
untuk mengukur kasih Allah, kata-kata kita terlalu sederhana untuk
menggambarkan kasih Allah dan mata kita sangat terbatas untuk melihat dan
menceritakan kasih Allah.
Kasih-Nya yang lebih lebih besar
ketika Ia menyatakan kepeduliannya kepada dunia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16).
Mari kita mengasihi Allah dengan
sungguh-sungguh, karena Ia mengasihi kita lebih dari apa yang kita lihat, kita
rasakan dan kita terima. Kasih Allah melampau batas kemampuan dan pengetahuan
kita.
Karena kasih Allah begitu besar
kepada kita, maukah kita sungguh-sunguh mengasihi Tuhan dalam kesetiaan dan
ketaatan melayani Dia? Maukah kita menanggalkan keegoan kita dan memberikan
waktu kita kepada-Nya? #KetutMardiasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar